Banjir Bandang Dahsyat Terjang Nepal-Tibet, Ratusan Tewas dan Ribuan Orang Hilang

Written by

in

JAKARTA MEDIA CENTER, KATHMANDU — Bencana kemanusiaan skala besar melanda wilayah perbatasan Nepal dan Tibet, China, menyusul banjir bandang dan tanah longsor masif yang terjadi sejak Rabu (26/8/2026) pagi. Runtuhan material es gletser, batu, dan lumpur dalam volume besar dari Pegunungan Himalaya menerjang kawasan hilir dengan kecepatan tinggi, menyapu permukiman penduduk dan infrastruktur penting. 

Berdasarkan laporan terbaru dari otoritas penanggulangan bencana setempat hingga Kamis (27/8/2026), korban jiwa terkonfirmasi telah melampaui 175 orang. Operasi pencarian dan penyelamatan terus berpacu dengan waktu karena lebih dari 1.300 orang masih dinyatakan hilang di kedua sisi perbatasan. 

Kronologi dan Penyebab Bencana

Badan Survei Geologi AS (USGS) awalnya mendeteksi adanya aktivitas seismik yang dikira gempa tektonik bermagnitudo 4,4. Namun, analisis satelit lebih lanjut mengonfirmasi bahwa getaran tersebut murni akibat runtuhnya gletser raksasa (glacial collapse) di wilayah hulu pegunungan.

Miliaran ton material es dan batu meluncur deras menuju anak Sungai Bhote Koshi (Lhende Khola). Aliran tersebut sempat membendung sungai sebelum akhirnya pecah menjadi gelombang air lumpur raksasa setinggi beberapa lantai yang menghantam area perbatasan sekitar pukul 08.30 pagi waktu setempat. 

Kepolisian Nepal mengonfirmasi penemuan sedikitnya 175 jenazah. Sementara itu, Badan Penanggulangan Bencana Nepal mencatat 823 orang hilang di wilayahnya. Di sisi Tibet (China), media pemerintah melaporkan 3 orang tewas dan 558 orang hilang di sekitar Pelabuhan Gyirong. 

Jalur yang terdampak merupakan rute vital pariwisata Himalaya dan peziarah menuju Gunung Kailash. Kementerian Pariwisata Nepal melaporkan ratusan turis asing hilang, yang berasal dari India, Amerika Serikat, Australia, Inggris, Malaysia, hingga Kanada. 

Distrik Rasuwa dan Nuwakot menjadi wilayah terdampak paling parah di Nepal. Sedikitnya 19 jembatan hancur, puluhan kilometer jalan raya terputus, dan sekitar 12 proyek pembangkit listrik tenaga air (PLTA) mengalami kerusakan berat. Pelabuhan Gyirong, yang mengelola sepertiga perdagangan Nepal-China, dilaporkan porak-poranda.

Perdana Menteri Nepal, Balendra Shah, menyampaikan duka cita mendalam dan menegaskan bahwa negara akan mengerahkan seluruh sumber daya yang ada untuk membantu para korban. Angkatan Darat dan Kepolisian Nepal telah diterjunkan ke lokasi menggunakan helikopter untuk mengevakuasi korban selamat dan menyalurkan bantuan logistik darurat.

Mengingat medan yang hancur dan kacau, pemerintah Nepal juga telah meminta bantuan internasional, termasuk dari India dan China, guna mempercepat pencarian korban di wilayah-wilayah terisolasi. 

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri RI melaporkan bahwa 45 WNI yang berada di Nepal saat ini terkonfirmasi dalam kondisi aman.

Otoritas setempat terus mengimbau warga di sepanjang bantaran Sungai Trishuli, Bhotekoshi, dan Narayani untuk segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi karena potensi banjir susulan masih mengancam.

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *